Emery Masih Kecewa dengan Sikap Arsenal

Meski sudah tak lagi menjadi pelatih Arsenal, Unay Emery masih menyimpan sakit hati. Pelatih asal Spanyol itu sepertinya belum bisa move on dari The Gunners, secara khusus dari sikap manajemen terhadapannya di masa-masa akhir kepelatihannya.

Mantan pelatih Paris Saint-Germain (PSG) itu menyesali sikap manajemen yang tidak memberikan bantuan dan perlindungan kepadanya di masa-masa sulit. Patut diakui sejak kepergian Arsene Wenger, Arsenal terus menghadapi tantangan untuk menjadi klub yang disegani.

Kehadiran Emery ternyata belum juga mampu mendongkrak prestasi tim. Tak heran Emery tak bisa bertahan lama di Emirates Stadium. Ia hanya bisa mengabdikan diri selama satu setengah tahun, lebih cepat dari kontrak awalnya selama dua tahun.

“Di setiap klub, saya selalu dilindungi: Lorca, Almeria, Valencia, PSG. Di Sevilla, ada Monchi (direktur klub-red). Di PSG (presiden-red) Nasser Al-Khelaifi melindungi saya di ruang ganti dan di depan publik,” beber Emery.

Lebih lanjut ia mengatakan situasi yang dihadapinya di Arsenal berbeda dengan di klub-klub yang pernah dilatihnya sebelumnya. Nama besar Wenger sepertinya membuatnya harus bisa menghadapi berbagai ekpektasi tinggi. Namun selama berada di Arsenal, ia kerap mendapat kritikan dari berbagai pihak. Dalam situasi seperti ini Emery merasa dirinya tidak mendapat pembelaan dari manajemen. Ia seperti berjalan sendirian dan menghadapi segalanya sendiri.

“Di Arsenal, mereka tidak mampu. Mungkin karena mereka datang dari Arsene Wenger, yang sudah melakukan segalanya. Mereka bilang: ‘Kami bersama Anda’, tapi di depan fans dan di ruang ganti mereka tidak bisa melindungi saya. Faktanya adalah saya merasa sendirian,” tegasnya.

Saat ini Arsenal ditangani Mikel Arteta. Mantan asisten pelatih Pep Guardiola itu mengisi kursi yang ditinggalkan Emery. Bek Arsenal Shkodran Mustafi menilai kehadiran Arteta telah memberikan pengaruh positif.

“Dia itu agak seperti seorang profesor. Dia tahu persis di mana dia ingin para pemain berada ketika menguasai bola dan bagaimana bereaksi ketika kehilangan penguasaan,” beber Mustafi.

Lebih lanjut Mustafi mengatakan Arteta memberi kemungkinan kepada para pemain untuk memainkan berbagai peran sekaligus.

“Itu sangat spesial. Ketika saya mengumpan, biasanya saya cuma fokus ke di mana saya harus berada saat kehilangan bola. Tapi dia juga mau saya berkontribusi saat menyerang. Jadi kami secara konstan perlu membuat opsi untuk para pemain yang menguasai bola.”

Ia mengakui kehadiran Arteta turut membuka wawasan dan memperkenalkan kepadanya sejumlah hal baru. Baginya hal ini merupakan sesuatu yang positif.